CoinDesk Indonesia memiliki program baru bertajuk CoinDeskIDialogue, sebuah forum diskusi kripto yang dihadirkan dalam kanal komunitas di Telegram Voice Chat. Pada program ini CoinDesk Indonesia berkesempatan menghadirkan para Founder & C-level kripto indonesia, kami menanyakan prediksi bullrun dan harapan kripto di tahun 2024. Inilah prediksi dan jawabannya:
1.CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis
Pada episode perdananya, CoinDesk Indonesia mengundang CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, untuk membahas topik menarik berjudul "Persiapan Menyambut Next Bullrun."
Yudhono, atau yang akrab disapa Yudho, memberikan wawasan mendalam tentang kemungkinan peristiwa bull run hingga faktor-faktor pemicunya, terutama menjelang Bitcoin Halving yang dijadwalkan pada tahun 2024. Yudho meyakini bahwa peristiwa Bitcoin Halving yang dijadwalkan akan terjadi pada April 2024 akan menjadi penyebab munculnya tren bull run dalam pasar kripto.
Selain itu, Yudho menyoroti bahwa topik seputar pengajuan Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot, terutama melibatkan manajemen aset terbesar di dunia seperti BlackRock, memiliki potensi menjadi katalisator utama dalam memicu bull run tersebut.
Dalam mengidentifikasi tanda-tanda awal bull run, Yudho mencatat bahwa saat ini terlihat pemulihan harga aset kripto dan bahkan reli, meskipun kondisi pasar saham global mengalami penurunan dan Federal Reserve AS menghadapi ketidakpastian terkait suku bunga. “Ini mencerminkan optimisme dari pasar yang mungkin sudah menandakan adanya suatu bull run,” paparnya. “Kalau harga Bitcoin mencapai sekitar level USD40.000 dan bertahan di situ sampai Bitcoin Halving, itu bisa dibilang jadi tanda-tanda awal dari bull run.”
2.CEO Indodax, Oscar Darmawan
Pada episode keduanya CoinDesk Indonesia mengundang CEO Indodax, Oscar Darmawan dengan membawa topik Prediksi Pasar Kripto 2024: Bersama Magister Blockchain & Digital Currency. Ia membahas proyeksi industri kripto tahun depan dan berbagi pengalaman studi blockchain-nya.
Oscar menyarankan bahwa para investor yang ingin memasuki pasar saat ini harus mempertimbangkan koreksi harga. "Pada tiga siklus terakhir, faktor halving menjadi salah satu pemicu utama bull run. Halving, di mana terjadi gangguan pasokan Bitcoin, menciptakan lonjakan harga yang mengundang panic buying, namun selalu diikuti oleh koreksi harga,” tuturnya.
Lebih lanjut, Oscar mengemukakan pandangannya tentang potensi kenaikan harga Bitcoin menjelang atau setelah Halving, dengan menyatakan bahwa harga aset kripto tersebut dapat mencapai dua kali lipat dari nilai All-Time High (ATH) sebelumnya.
“Saya berpendapat bahwa Bitcoin memiliki potensi untuk melampaui level Rp1,5 miliar. Namun, ini hanya perkiraan berdasarkan pengalaman dari tiga halving sebelumnya,” kata Oscar. "Pada Halving pertama pada tahun 2013, harga Bitcoin melonjak menjadi sekitar Rp7 juta. Pada tahun 2017, naik menjadi antara Rp100 juta hingga Rp200 juta, dan pada tahun 2021 lalu, melonjak hingga Rp800 juta. Namun, kenaikan harga selalu mengalami penurunan seiring dengan kedewasaan pasar."
Selain itu, kehadiran institusi di pasar kripto dipandang sebagai faktor yang mendorong potensi kenaikan harga aset kripto, terutama dengan antisipasi persetujuan Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot. "Pasar saat ini didorong oleh institusi seperti BlackRock, yang menandakan tren baru di pasar kripto," tambah Oscar.
Ini menandakan bahwa dunia kripto bukan hanya menjadi area spekulasi semata, melainkan juga menjadi tempat investasi yang lebih teratur dengan banyak institusi yang mulai mengeksplorasi sektor ini, katanya.
3.CCO Reku, Robby Bun
Pada episode ketiga, CoinDesk Indonesia memiliki kesempatan untuk menghadirkan Robby Bun, yang menjabat sebagai CCO Reku sekaligus Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO). Di obrolan ini Robby memberikan prediksinya mengenai potensi lonjakan harga menjelang Bitcoin Halving 2024 dan juga memberikan wawasannya tentang regulasi kripto yang sedang berlaku di Indonesia saat ini.
Robby memberikan analisisnya mengenai empat faktor utama yang dianggapnya sebagai pemicu utama dari tren bull run dalam pasar aset kripto.
Pertama, pemulihan ekonomi pasca pandemi menjadi faktor yang dianggap sangat signifikan. Seiring upaya pemulihan ekonomi global dari dampak yang diakibatkan oleh wabah COVID-19, Robby optimis bahwa pemulihan ini akan turut berdampak pada pasar kripto secara luas, terutama dalam meningkatkan nilai dari aset kripto.
Kedua, proses adopsi yang semakin banyak dilakukan oleh institusi keuangan, yang pada dasarnya dipengaruhi oleh upaya pengajuan ETF kripto oleh manajemen aset besar di AS. Hal ini diharapkan juga akan berdampak pada pasar kripto di Indonesia. “Jika institusi di Indonesia diperbolehkan melakukan transaksi aset kripto dalam batas yang diatur, hal ini akan memberikan dampak signifikan sebagai pemicu lonjakan harga,” katanya.
Ketiga, Robby menyebut faktor selanjutnya meliputi regulasi. Menurutnya, regulasi dalam pelaksanaan dan pengawasan perdagangan aset kripto bukan hanya dilakukan oleh Indonesia, tetapi juga oleh negara-negara lain seperti di Eropa, seperti MiCA.
Keempat, Robby menyoroti akan adanya teknologi dan pengembangan decentralized finance (DeFi) yang mampu mendorong adopsi lebih luas sehingga memicu bull run. “Ya, meskipun sulit diprediksi secara pasti ya, harapannya tahun 2024 menjadi tahun yang baik bagi industri aset kripto secara keseluruhan. Tanpa mengurangi dinamika dan inovasi pada industri, sentimen pasar yang positif diharapkan akan terwujud di 2024,” tutur Robby.
Sementara itu, ia memperkirakan bahwa harga Bitcoin akan mencapai ratusan ribu dolar AS pada periode bull run mendatang. “Kalau dari posisi saya, saya memandang Bitcoin akan menuju ke USD130 ribu sampai USD150 ribu rentang harganya,” katanya.
4.Founder belajarbitcoin.com, Angga Andinata
Pada episode ke-empat, CoinDesk Indonesia mengundang seorang influencer kripto yang juga merupakan Founder belajarbitcoin.com, Angga Andinata. Ia memberikan pandangannya terkait prediksi kripto di tahun mendatang hingga membeberkan tips berinvestasi Bitcoin sebagai trader kripto ritel.
Secara historis, setiap kali terjadi peristiwa Bitcoin Halving, umumnya terjadi kenaikan signifikan dalam harga BTC. Meski begitu, Angga meramalkan bahwa harga Bitcoin kemungkinan akan tetap berada dalam kisaran yang sama seperti sebelumnya selama periode Halving. Ia menegaskan bahwa level All-Time High (ATH) harga Bitcoin biasanya tercapai sekitar 400 hingga 500 hari setelah peristiwa Halving.
Oleh karena itu, Angga menyarankan untuk tidak terburu-buru menjual Bitcoin saat terjadi kenaikan harga yang singkat setelah Halving. Menurutnya, lonjakan harga yang signifikan biasanya terjadi beberapa bulan setelah Halving, yang diprediksikan akan terjadi pada tahun berikutnya, yakni tahun 2025.
Menyambut potensi lonjakan harga di pasar kripto, Angga memberikan wawasan tentang strategi yang dianjurkan untuk menghadapi bull run berikutnya. Dia menegaskan pentingnya memiliki dasar yang kuat dalam pengambilan keputusan investasi. Memiliki tesis yang solid memungkinkan para investor untuk tetap stabil dalam menghadapi fluktuasi pasar dan mempertahankan konsistensi dengan strategi investasi jangka panjang mereka.
Adapun Angga menjelaskan bahwa fluktuasi harga Bitcoin sering dipengaruhi oleh sentimen pasar global. Dia menegaskan bahwa pandangan investasi Bitcoin harus bersifat jangka panjang, dengan fokus pada adopsi Bitcoin yang masih rendah saat ini. "Faktor penting bukan hanya sentimen ekonomi global yang fluktuatif dalam jangka pendek, tetapi lebih kepada adopsi Bitcoin di pasar. Sekarang adopsi Bitcoin baru sekitar 4-6%, tapi terus berkembang," ujarnya.
5.CEO Pintu, Jeth Soetoyo
Pada episode terbaru CoinDesk Indonesia mengundang CEO Pintu, Jeth Soetoyo dengan membahas topik obrolan persiapan menyambut Bitcoin Halving 2024!
Dalam obrolan ini, Jeth membahas potensi dampak Bitcoin Halving 2024 terhadap pasar kripto, fokus pada harga dan volatilitas Bitcoin. Ia merinci bahwa sejarah menunjukkan kenaikan harga setiap kali halving terjadi, karena reward penambang Bitcoin berkurang, mendorong kenaikan biaya produksi dan harga jual.
Meskipun optimis terhadap kenaikan harga, Ia mengakui ketidakpastian kapan tepatnya hal ini terjadi, apakah sebelum atau sesudah halving. Dia juga menyoroti peningkatan volatilitas yang diantisipasinya. Seiring dengan mendekatnya halving, Ia menyarankan agar pelaku pasar tetap waspada terhadap perubahan yang mungkin terjadi. Meskipun harga Bitcoin berpotensi naik, dinamika pasar tetap kompleks dan dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Dalam analisisnya, faktor pertama yang signifikan adalah suku bunga di Amerika Serikat selama dua tahun terakhir, suku bunga terus meningkat di AS, yang merupakan pasar modal terbesar di dunia. Kenaikan ini, yang dimulai sejak masa pandemi Covid-19, mencapai sekitar +5% saat ini. Dampaknya negatif, mempengaruhi ekonomi dan likuiditas secara keseluruhan.
Peningkatan suku bunga mendorong investor beralih dari aset berisiko, yang mungkin menghadirkan tantangan volatilitas, ke opsi yang lebih aman seperti deposito dengan imbal hasil +5% . Namun, antisipasi menunjukkan bahwa tingkat suku bunga telah mencapai puncak, dan Federal Reserve AS merencanakan penurunan tahun 2024, menciptakan peluang bagi likuiditas untuk kembali ke aset berisiko, termasuk kripto.
Selain itu, faktor kedua yang menjadi katalis adalah Bitcoin halving. Melihat kedua katalis ini, harapannya adalah bahwa tahun depan akan menjadi periode penting untuk analisis harga, di mana likuiditas dapat berpindah kembali ke aset-aset berisiko, termasuk kripto.