Sepanjang 2023, harga aset kripto mengalami fluktuasi drastis yang dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk sentimen negatif terkait regulasi global terhadap kripto dan tuntutan hukum yang dikenakan pada berbagai crypto exchange global, terutama yang beroperasi di Amerika Serikat.
Kendati demikian, sebagian besar aset kripto tetap mempertahankan performa positif sepanjang tahun ini. Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, berhasil mencatat kenaikan harga sebesar 71% hingga Oktober 2023 berdasarkan Year-to-Date (YTD), mencapai USD34.500 atau setara Rp549 juta per token, berdasarkan data dari CoinMarketCap. Sementara itu, ether (ETH) juga mengalami peningkatan sekitar 21%, mencapai USD1.813 atau sekitar Rp28,8 juta per token.
Mengamati performa ini, crypto exchange Upbit memprediksi bahwa kondisi pasar kripto pada kuartal keempat 2023 dapat terus menunjukkan pertumbuhan positif, terutama menjelang siklus Bitcoin Halving yang bisa menghasilkan perubahan signifikan dalam dinamika harga BTC. “Kuartal keempat tampaknya penting bagi aset digital selama periode ini, interaksi antara pola historis dan dinamika pasar dapat menciptakan situasi yang menarik,” tutur Resna Raniadi, VP of Operations Upbit Indonesia. Menurut Resna, para investor dan peminat aset digital yang memperhatikan sinyal-sinyal ini mungkin berada di posisi yang tepat untuk memanfaatkan momen transformatif di pasar kripto. “Walaupun pasarnya masih fluktuatif dan belum stabil, secara garis besar kami yakin volume akan terus mengalami peningkatan,” tambahnya. Prediksi ini sepertinya telah tercermin dalam kenaikan harga kripto, termasuk BTC yang melonjak menjadi USD35.000 dalam beberapa hari terakhir setelah berita tentang Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin yang dimiliki oleh BlackRock telah listing di Depository Trust and Clearing Corporation (DTCC). Kenaikan harga BTC ini juga diikuti oleh peningkatan harga aset kripto lainnya.
Baca juga: ETF BlackRock Resmi Listing di DTCC, Bawa Harga Bitcoin Terbang ke Rp549 Juta